Follow Us

Jadi Tersangka Karena Pasar Muamalah, 2 Ulama Ini Pengaruhi Zaim Zaidi Pakai Uang Dinar dan Dirham dalam Setiap Transaksinya

Bayu Dwi Mardana Kusuma - Rabu, 03 Februari 2021 | 13:44
Pendiri Pasar Muamallah di Depok, Jawa Barat, Zaim Zaidi.
dok. Mitrapol.com

Pendiri Pasar Muamallah di Depok, Jawa Barat, Zaim Zaidi.

Fotokita.net - Jadi tersangka karena Pasar Muamalah Depok, 2 ulama ini pengaruhi Zaim Saidi pakai uang dinar dan dirham dalam setiap transaksinya.

Nama Zaim Saidi tiba-tiba menjadi sorotan publik. Penyebabnya, Bareskrim Polri menetapkan pendiri Pasar Muamalah Depok Zaim Saidi sebagai tersangka.

Zaim Saidi ditangkap oleh Subunit 4 Bareskrim pada Selasa (2/2/2021) malam.

"Status tersangka," kata Karo Penmas Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono saat dihubungi, Rabu (3/2/2021).

Baca Juga: Tahta AHY Ingin Dikudeta Hingga Surati Jokowi, Aib Partai Demokrat Malah Terbongkar, Ada Apa?

Rusdi mengatakan, perkembangan kasus terkait penangkapan Zaim akan disampaikan kemudian.

"Perkembangan nanti akan disampaikan," ucapnya. Keberadaan Pasar Muamalah di Jalan Raya Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat ramai diperbincangkan warganet di media sosial beberapa waktu belakangan.

Sebab, transaksi jual beli di pasar tersebut bukan menggunakan mata uang Rupiah, melainkan koin dinar dan dirham.

Baca Juga: Foto Bareng Keluarga Cendana Disebar Kemana-mana, Susi Pudjiastuti Malah Beri Respon Tak Terduga, Penyerbarnya Jadi Malu Sendiri

Soal adanya pasar tersebut dapat dilacak dari riwayat digitalnya melalui berbagai pemberitaan dan publikasi sejak 2016.

Lurah Tanah Baru Zakky Fauzan mengatakan, pasar tersebut beroperasi dua pekan sekali pada hari Minggu. Pasar buka dari pukul 07.00 WIB hingga 11.00 WIB.

Di pasar itu, barang-barang yang diperjualbelikan beraneka ragam, di antaranya "sandal nabi", parfum, makanan ringan, kue, madu, dan pakaian.

Zakky menyebut pasar yang dimiliki seorang pria bernama Zaim tersebut tidak mengajukan izin beroperasi secara resmi kepada pihaknya.

"Ke kami tidak ada izin resmi," kata dia.

Baca Juga: Beragama Nasrani dan Dekat dengan Ulama Tanah Air, Ayah Kapolri Listyo Sigit Punya Jabatan Mentereng di TNI AU Hingga Bikin Jokowi Segan

Lantas siapakah Zaim Saidi? Dari mana ide menggunakan dinar dan dirham sebagai alat tukar transaksi di Pasar Muamallah Depok, Jawa Barat?

Zaim Saidi lahir di Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada 21 November 1962.

Menikah dengan seorang wanita pada tahun 1994 yang bernama Dini Damayanti, dan dikaruniai lima anak: Sahira Tasneem, Addina Akhtar, Anisa Zahra, Zidny Ilman, dan Maula Zakaria.

Baca Juga: Adukan Ulah Abu Janda ke Wapres, Sahabat Habib Rizieq Ini Murka Usai Dituding Jadi Penyebab Kasus Sang Pegiat Media Sosial

Zaim Saidi merupakan alumnus Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1986.

Pada tahun 1991, ia memperoleh Public Interest Research Fellowship dari Multinational Monitor (Washington DC).

Pada 1996 menerima Merdeka Fellowship dari pemerintah Australia dalam rangka 50 tahun kemerdekaan RI.

Beasiswa tersebut dimanfaatkan untuk studi banding tentang perlindungan konsumen, serta menempuh studi S-2, Public Affairs di Departement of Government and Public Administration di University of Sydney, Australia.

Tesisnya berjudul The Politics of Economic Reform in the New Order: 1986-1996.

Baca Juga: Tak Pernah Takut Dijemput Malaikat Maut, Alasan Kapten Afwan Enggan Terbang di Hari Jumat Bikin Terharu

Pada tahun 2005-2006 Zaim Saidi belajar lebih jauh tentang muamalat dan tasawuf langsung pada Syekh Umar Ibrahim Vadillo dan Syekh Dr Abdul Qadir as- Sufi, sambil melakukan penelitian di Dallas College, Cape Town, Afrika Selatan.

Hasil studinya ini ditulis dalam buku Ilusi Demokrasi: Kritik dan Otokritik Islam.

Dari sekian tokoh yang pernah bertemu secara langsung maupun tidak langsung dan mempengaruhi pembentukan pemikiran ekonomi syariah Zaim Saidi. Terdapat dua orang yang memiliki pengaruh paling dominan, mereka adalah Syekh Abdul Qadir as-Sufi dan Syekh Umar Ibrahim Vadillo.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Terus Melonjak Hingga Bikin Khawatir, Jokowi Akhirnya Turuti Usulan Ahli, Lockdown Jawa dan Bali?

Syekh Abdul Qadir as-Sufi lahir pada 1930 di Ayr, Skotlandia, dengan nama Ian Dallas. Dikenal luas di kalangan para pengikut sufisme di wilayah Benua Afrika sebagai pemimpin Tarekat Darqawiyah Syadziliyah-Qadiriyah, sebuah aliran tarekat pada era modern.

Dia juga pendiri Murabitun World Movement (Gerakan Murabitun Internasional), sebuah gerakan keagamaan yang bercita-cita menegakkan ajaran Islam secara kaffah, yaitu sangat menganjurkan kesetiaan pada otentisitas ajaran hukum Islam yang terpatri pada norma dan perilaku masyarakat.

Muslim di Madinah pada masa lampau. Dia menilai, Era Madinah sebagai bentuk dasar masyarakat Islam yang kini diperlukan untuk membangun kembali Islam kontemporer.

Gerakan Murabitun yang digagasnya ini terfokus pada upaya menekankan pentingnya zakat sebagai sistem pajak yang kini telah punah akibat dominasi praktik politik dan sistem keuangan non-Islam.

Di mata Syekh Abdul Qadir, pemulihan praktik zakat mengharuskan adanya pemberlakuan mata uang syariah yang otentik, yakni mata uang Dinar (emas) dan Dirham (perak).

Baca Juga: Lagi Jadi Omongan, Ini 5 Fakta di Balik Pesan WhatsApp Soal Privasi Data, Pengguna Malah Kabur

Untuk mengembangkan gerakan Murabitun ini, selama bertahun-tahun dengan berbasis di Spanyol, Syekh Abdul Qadir membangun komunitas-komunitas Islam di Granada, Sevilla, Madrid, Galicia, Basque, dan Barcelona. Dia pun membantu membangun komunitas-komunitas Islam di Jerman, Inggris, Italia, dan Denmark.

Di luar Eropa, terdapat komunitas-komunitas yang sangat aktif, di antaranya Afrika Selatan, Nigeria, Meksiko, Amerika Serikat, Australia, Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Ian Dallas tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga Eropa pemeluk Kristen. Selepas menyelesaikan pendidikan di Royal Academy of Dramatic Arts, London University, Dallas memulai kariernya di bidang seni sebagai seorang penulis dan pemain drama, dan berkembang cukup sukses hingga pernah dikontrak oleh jaringan televisi BBC.

Baca Juga: Tertangkap Kamera Saat Pelesiran Keluar Bui, Penampilan Baru Tukang Cuci Mobil Ini Bikin Syok Usai Garong Uang Negara Rp 2,3 Triliun

Pada tahun 1963, di Kota Fes, Maroko, Dallas memutuskan memeluk Islam di bawah bimbingan Imam Masjid al-Qarawiyyin, Syekh Abdul Karim Daudi.

Dia kemudian bergabung dengan Tarekat Darqawiyah, dalam tarekat ini, dia berguru kepada sang pemimpin tarekat, Syekh Muhammad bin al-Habib.

Dari sang guru inilah, Abdul Qadir memperoleh gelar As-Sufi. Bersama Syekh al-Habib, dia menjelajahi Maroko dan Aljazair untuk belajar sufisme dari Sidi Hamud bin al- Bashir (ulama Bilda) serta Sidi Fudul al-Huwari as-Sufi (ulama Fes).

Dia juga banyak menelaah gagasan-gagasan beberapa tokoh besar dari lingkungan peradaban Barat yang telah mengilhaminya semasa muda. Mulai dari pemikiran Baudelaire hingga Nietzsche, berlanjut pada Wagner, Jung, Goethe, dan Heidegger.

Baca Juga: Hukum Konten Bagi-bagi Uang Diungkap Ustaz Abdul Somad, Sosok Ini Kabur Hingga Minta Tolong Warga Saat Dikejar Baim Wong

Setelah kembali ke Eropa dari perjalanan spiritualnya di Maroko, Abdul Qadir menuju ke Benghazi, Libya, bersama Syekh al-Fayturi. Di sini, ia menceburkan diri ke dalam khalwat, sebuah proses spiritual dengan cara menyepi dan mengasingkan diri. Tak lama setelah itu, dia mendeklarasikan kepemimpinannya atas Tarekat Darqawiyah.

Sejak saat itu, Syekh Abdul Qadir memprakarsai pengembangan komunitaskomunitas Muslim di jantung peradaban Barat di Eropa. Peningkatan jumlah kaum laki-laki ataupun perempuan di Spanyol, Inggris, Denmark, Italia, dan orang-orang Eropa lain dalam tempo tiga dasawarsa terakhir yang memilih Islam sebagai agama mereka pun terjadi.

Bagi Zaim Saidi, Syekh Umar Ibrahim Vadillo adalah guru kedua yang sangat dikagumi setelah Syekh Abdul Qadir as-Sufi, sebagaimana yang diuraikannya dalam sebuah artikel yang dimuat di situs wakalanusantara pada tanggal 25 Oktober 2011, yang berjudul “Kehadiran kembali seorang Mursyid di Nusantara, yang datang dari Andalusia, melalui Afrika Selatan, telah membawa cahaya kembali ke wilayah ini.”

Baca Juga: Dituntut Tak Boleh Keluyuran Selama 30 Hari, Raffi Ahmad Cuma Bisa Lakukan Ini Usai Disindir Jokowi Saat Divaksin Kedua Kali

Syekh Umar Ibrahim Vadillo mulai dikenal secara Internasional pada awal 1990-an setelah ia mencetak kembali koin Dinar emas dan Dirham perak di Granada, Spanyol, pada 1992.

Tindakan itu dilakukannya sebagai konsekuensi atas fatwa ‘Haramnya Uang Kertas sebagai Alat Tukar’ yang ia terbitkan setahun sebelumnya, 1991. Sebagai hasil dari kajian mendalam yang telah dilakukannya terhadap permasalahan muamalat dan riba dalam syariat Islam beberapa tahun sebelumnya.

Semenjak dua puluhan tahun sebelumnya Syekh Dr. Abdalqadir as-Sufi, pembimbing Syekh Umar, telah menyampaikan kepada dunia kritiknya atas sistem uang kertas yang tidak adil dan rapuh.

Namun sangat sedikit orang yang mau mendengar dan menyambut baik kritik tersebut. Di banyak kalangan dan tempat kritik ini bahkan sangat tidak populer. Sampai terjadilah krisis moneter yang melanda Asia pada 1997-1998 lalu.

Baca Juga: Bak Panggang Jauh Dari Api, Terus-terusan Diklaim Jokowi, Media Asing Soroti Kondisi Indonesia Usai Lewati 1 Juta Kasus Covid-19

Sekitar tahun 2008, krisis moneter terjadi kembali bahkan di jantungnya sendiri yaitu di AS dan Eropa. Dimulai pada akhir 2008, dengan persoalan gagal bayar pada kredit perumahan di AS, yang diikuti dengan kebangkrutan beberapa perusahaan finansial, seperti Lehman Brothers, dunia terus dibayangi bencana keuangan global.

Sampai lewat pertengahan 2010 krisis keuangan di Eropa, dengan pusatnya di Yunani dan mulai menular ke Spanyol dan Portugal, membuka mata dunia akan kebenaran segala yang disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir sejak dua - tiga dekade lalu. Pengenalan kembali Dinar dan Dirham pun semakin luas diterima.

Di antaranya adanya kebijakan pemerintah Malaysia, khususnya Negeri Kelantan yang mengadopsi Dinar dan Dirham sebagai mata uang syariah. Di belakang gerakan Negeri Kelantan itu pun, tidak lain adalah Syekh Umar Vadillo, yang sejak 2009 menjabat sebagai CEO Kelantan Golden Trade (KGT).

Baca Juga: Foto SBY Jualan Nasi Goreng Jadi Bahan Bully, Penampilan AHY dan Sang Istri Saat Liburan ke Puncak Disorot Karena Cuma Pakai Outfit Ini

Syekh Umar telah memikirkan sebuah mekanisme pengaturan untuk memastikan bahwa ekonomi berbasis Dinar dan Dirham dapat berjalan secara universal. Untuk itu, sejak awal pencetakan prototipe Dinar dan Dirham, 1992, ia menginisiasi World Islamic Trading Organization (WITO) dan, belakangan, World Islamic Mint (WIM).

Produk pertama yang dikeluarkan oleh WITO adalah standar teknis koin, yang didasarkan kepada standar yang dibuat oleh Khalifah Umar ibn Khattab, serta rancang muka koin-koin Dinar Dirham, yang saat ini dikenal sebagai Seri Haji, yaitu koin Dinar bergambar masjid Nabawi dan koin Dirham bergambar Masjidil Haram.

Terkait dengan persoalan otorisasi pihak pencetak dan pengedar koin, serta masalah standarisasi nilai tukar dalam penerapan Dinar dan Dirham secara internasional merupakan agenda World Islamic Mint (WIM).

Baca Juga: Foto Orangtuanya Banting Tulang Jualan Bubur, Artis Cantik Ini Dijuluki Pelakor Sukses Hingga Rela Jadi Istri Siri Pengusaha

Bagi Zaim Saidi, berbagai hal di atas menjadikan semua pemikiran dan pekerjaan yang telah diberikan oleh Syekh Umar Vadillo sebagai sebuah kelengkapan pengetahuan dan amal, konsep dan praksis.

Sekaligus menjadikan sosoknya di mata Zaim Saidi sebagai seorang mujahid yang bukan saja tidak mengenal lelah, tetapi memiliki visi akan kemenangan Islam.

Sebab, keyakinannya sepenuhnya dilandasi oleh sikap penyerahan diri secara total hanya kepada Allah. Syekh Umar Vadillo tidak mengenal adagium: Dawud melawan Jalut. Adagiumnya adalah ‘Ketika Kebenaran Datang, Kebatilan Musnah’.

Visi yang selalu digaungkan kepada siapapun juga senantiasa konsisten: kemenangan Islam, kembalinya 'amal Ahlul Madinah.

Baca Juga: Respon Maia Estianty Saat Pacar Dul Jaelani Tolak Makan Emas 24 Karat Disorot, Ahli Ingatkan Bahaya Santap Logam Mulia, Ini Dampaknya

Selain mengeluarkan fatwa tentang pelarangan uang kertas sebagai alat tukar di tahun 1991. Syekh Umar kembali mengeluarkan sebuah fatwa penting, Fatwa on Banking and the Use of Interest Received on Bank Deposits (Fatwa tentang Perbankan dan Penggunaan Bunga Deposito) di tahun 2006.

Ini adalah sebuah dokumen fatwa setebal 66 halaman yang ia tulis dengan cukup komprehensif.

Disusul dengan fatwa tentang zakat berjudul, Fatwa on the Payment of Zakat: Using Dinar and Dirham the Issue of Ayn and Dayn in Zakat (Fatwa tentang pembayaran zakat, penggunaan Dinar dan Dirham terkait uang riel dan janji utang dalam zakat) di tahun 2010.

Baca Juga: Belum Sebulan Jadi Presiden AS, Joe Biden Sudah Bikin Warga Amerika Murka Usai Ungkap Rencana Buat Dalang Bom Bali 2002

Melalui ketiga fatwa tersebut, Syekh Abdal Qadir menyebutkan bahwa Syekh Umar Vadillo adalah ‘faqih nomer satu dalam masalah finansial' yang dimiliki dunia Islam saat ini, dan pangakuan ini di terima sepenuhnya oleh Zaim Saidi.

Hal ini dilandasi oleh penilaian Zaim bahwa sebagai seorang faqih Syekh Umar telah mampu “membacakan” kembali, dan dengan itu memberikan pemahaman, bagi umat Islam dunia, pengetahuan yang telah dilupakan dan terkubur selama seratus tahun terakhir atas satu bagian yang sangat penting dari kitab Al-Muwatta-nya Imam Malik, yakni muamalat.

Zaim Saidi pernah aktif di berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), antara lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Baca Juga: Diklaim 95 Persen Ampuh Lawan Covid-19, 3 Warga Singapura Malah Nyaris Meninggal Usai Disuntik Vaksin Buatan Negara Ini

Selain itu juga pernah mengasuh dua acara talkshow di televisi, kamar 619, bertemakan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan di televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada tahun 2000, dan Gerbang Agribisnis di Televisi Republik Indonesia (TVRI) sejak 2002.

Pada tahun 2000, Zaim Saidi mendirikan dan memimpin Wakala Adina, yang sejak Februari 2008 berubah menjadi Wakala Induk Nusantara (WIN), sebagai pusat distribusi Dinar emas dan Dirham perak di Indonesia.

Selama 2008-2010, menjabat sebagai Direktur Tabung Wakaf Indonesia (TWI) Dompet Dhuafa, sebelumnya beberapa tahun menjadi anggota Dewan Wali Amanah Yayasan Dompet Dhuafa tersebut.

Pada 2009, Zaim Saidi mencanangkan Festifal Hari Pasaran (FHP) Dinar Dirham Nusantara sebagai gerakan pengembalian pasar-pasar rakyat, di mana Dinar dan Dirham berlaku sebagai alat tukar.

Baca Juga: Mulai Ditinggal, WhatsApp Mendadak Bagikan Info di Status Pengguna, Warganet Malah Tertawa: Panik!

Bersamaan dengan itu Zaim mempelopori pembentukan jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar dan Dirham Nusantara (JAWARA).

Pada 2010, Zaim Saidi mencanangkan Gerakan Nasional Infak dan Sedekah Se-Dirham untuk Ketahanan Bangsa (GARNISSUN Bangsa).

Gerakan ini merupakan gerakan amal untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat berupa infak dan sedekah.

Lembaga ini memobilisasi infak dan dan sedekah dalam bentuk koin-koin Dirham perak yang dapat diserahkan langsung kepada fakir miskin, masjid dan musholla di lingkungan terdekat, rumah-rumah yatim piatu, panti jompo, pondok pesantren, maupun lembaga-lembaga infak dan sedekah, serta lembaga sosial yang dipercaya.

Baca Juga: Main Sebut Islam Agama Pendatang yang Arogan, Abu Janda Langsung Kena Semprot Ulama Kondang Ini Hingga Diadukan ke Wapres

(berbagai sumber)

Editor : Fotokita

Baca Lainnya

Latest