Fotokita.net -Presiden RI ke-2 Soeharto pernah menyebut Timor Leste tak layak merdeka, kini Xanana Gusmao malah sebut Bumi Lorosae bisa jadi negara mati meskipun punya dana abadi ratusan triliun di Bank New York, begini penjelasannya.
Negara Republik Demokratik Timor Leste(RDTL) dulu pernah menjadi bagian dari Indonesia. Fakta tentang itu, terjadi antara tahun 1975 hingga 1999.
Bahwa bergabungnyaTimor Leste keIndonesia, terjadi melalui invansi tentara Indonesiaterhadap Bumi Lorosae.
Hal tersebut dilakukan setelah Portugismeninggalkan Timor Leste, wilayah jajahannya selama ratusan tahun.
Rupanya bergabungnya Timor Lestedengan Indonesiatidaklah melewati keputusan yang mudah.
MelansirThe Strategist(28/1/2020), Australiamenjadi negara yang terlibat dalam pengambilan keputusan tersebut.
Hal itu diungkapkan dalam buku kebijakan Canberra, dari invasi hingga kemerdekaan, dipamerkan dengan dirilisnya catatan kabinet pemerintahan John Howarduntuk tahun 1998 dan 1999 oleh National Archives of Australia.
Awal ceritanya adalah di Australiadan bergabungnya Timor Portugisdengan Indonesiatahun 1974–1976.
Merupakan sebuah buku, laporan dan kiriman setebal 900 halaman, yang menunjukkan perdana menteri yang kuat, Gough Whitlam, memaksakan kehendaknya sementara Departemen Luar Negeri menderita dan resah.
Diceritakan bahwa dalam pertemuan dengan Soehartopada bulan September 1974, Whitlam meninggalkan catatan peringatan yang menyatakan bahwa Timor Timur harus berintegrasi dengan Indonesia.
"Timor Portugis terlalu kecil untuk merdeka. Secara ekonomi tidak layak. Kemerdekaan tidak diinginkan di Indonesia, Australia, dan negara-negara lain di kawasan" ujarnya.
Menurut catatan laporan itu, Whitlam menawarkan dua pemikiran dasar.
Pertama, dia percaya bahwa Timor Portugisharus menjadi bagian dari Indonesia.
Kedua, hal tersebut harus terjadi sesuai dengan keinginan rakyat Timor Portugisyang diungkapkan dengan baik.
Whitlam yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Australiamenekankan bahwa ini belum menjadi kebijakan Pemerintah (Australia) tetapi kemungkinan besar akan menjadi seperti itu.

Siswa-siswi sekolah menengah pertama di distrik Manututoo, Timor Leste, menunggu lonceng sekolah ber
Sementara itu, diungkapkan bahwa Soehartomenjawab dengan pendapat lain.
Menurutnya, Timor Timur bisa menjadi 'duri di mata Australiadan duri di punggung Indonesia'.
Duta Besar Australiauntuk Indonesia, Richard Woolcott, menulis bahwa Canberra harus memutuskan antara 'idealisme Wilsonian dan realisme Kissingerian'.
Sementara Duta Besar Australiadi Portugal, Frank Cooper, mempertanyakan kerugian akibat mengorbankan Timor Lorosae ke Indonesiakepada Australia.
"Pertanyaan yang akan ditanyakan banyak orang bukanlah apakah kita dapat hidup dengannya tetapi apakah kita dapat hidup dengan diri kita sendiri," katanya.
Keinginan Whitlam agar Timor Lestebergabung dengan Indonesiadan tidak berdiri sebagai sebuah negara sendiri bukan tanpa alasan.
Kepala Urusan Luar Negeri, Alan Renouf , menulis bahwa Whitlam mengubah posisi Australiadengan mengadopsi kebijakan dua cabang ketika dua poin tidak dapat didamaikan.

Penduduk desa Maubara Lissa, distrik Liquisa - Timor Leste, menyabung ayam untuk hiburan. Dahulunya
"Whitlam tentu tidak ingin ada lagi negara mini yang dekat denganAustralia di Asia Tenggara atau Pasifik Selatan. Karena itu, dia tidak menginginkan Timor Timur merdeka; merger dengan Indonesiaadalah satu-satunya jawaban," ungkapnya.
Sementara itu, sebulan kemudian, mayor jenderal yang bertanggung jawab atas operasi khusus Indonesiamenyatakan bahwa sampai kunjungan Whitlam ke Jakarta, mereka masih ragu-ragu tentang Timor.
Namun, dukungan Perdana Menteri Whitlam tentang gagasan penggabungan Timor ke Indonesiatelah membantu mereka mengukuhkan pemikiran mereka sendiri dan menjadi sangat yakin akan hal tersebut.
Satu paralel antara era invasi dan kemerdekaan adalah peran perdana menteri Australiayang kuat yang mengubah pemikiran Jakarta tidak sesuai dengan yang dimaksudkan, dikutip dariThe Strategist.
Ya, bukan hanya terkait kebijakan Indonesiauntuk menginvansi Timor Leste, Australiaakhirnya juga terlibat dalam lepasnya Timor Lestedari Indonesia, saat era Perdana Menteri John Howard.
Dari Perdana Menteri Whitlam hingga Howard memiliki persamaan, yaitu kebijakan Australia adalah bahwa Timor Lorosae harus menjadi bagian dari Indonesia.
Namun, apa perbedaannya?

Warga Indonesia melaksanakan ibadah Shalat Ied di Masjid An Nuur Kampung Aloar, Dili, Timor Leste.
Menurut catatan, pada bulan Desember 1998, Howard menulis kepada Presiden Indonesia BJ Habibie, menyarankan Indonesiamempertimbangkan tentang tawaran otonomi kepada Timor Timur.
Menurut Donald Greenlees, surat itu merupakan upaya berisiko tinggi untuk membantu melegitimasi kekuasaan Indonesia.
"Namun itu adalah salah satu intervensi paling menentukan dalam sejarah salah satu hubungan terpenting Australia. Meskipun ada upaya oleh beberapa dari mereka yang terlibat untuk mengklaim secara retrospektif bahwa itu sukses, itu gagal dengan caranya sendiri. Kita tidak boleh melupakan apa yang salah," katanya.
Ketika Habibie menanggapi dengan melakukan sebaliknya, yang akhirnya menjadi pemungutan suara PBB pada tanggal 30 Agustus 1999, Canberra mendapati dirinya menuju krisis karena tujuan strategisnya disulap lalu disesuaikan kembali.
Setelah 20 tahun terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesiaatau NKRI, tidak juga membuat negaraTimor Lestemakmur.
Negara kecil di Pulau Timor itu masih terbelengguh dengan kemiskinan , pengangguran dan korupsi
Padahal cita-cita suci rakyat Timor Lesteyang ngontor ingin merdeka adalah mengautur diri sendiri dengan kekayaan yang melimpah agar sejahtera
Lembaga pembangnan PBB , UNDP pun menyebut negara kecil itu berada di urutan 152 dari 162 negara termiskin di dunia
Kabar bahagia sekaligus mengejutkan bagi rakyat Timor Lester, sebuah negara yang telah memisahkan diri dari Indonesia.

Kesehatan masih jadi barang amat mahal bagi masyarakat Timor Leste
Mantan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmaomembeberkan permasalahan pokok negara itu.
Ia pesimis rakyat Timor Lesteakan keluar dari zona krisis kemiskinan.
Gusmao mengungkapkan bahwaTimor Lestememiliki dana abadi dengan nominal ratusan triliunan rupiah.
Dana itu, katanya sekarang tersimpan di Bank New York, Amerika Serikat.
Namun, dia mengatakan bahwa, meski dana ratusan triliun rupiah itu cair, 10 tahun mendatang Timor Lesteakan menjadi negara yang mati.
Melansir dariThe Oekui Post, Rabu (16/9/2020), laporan trimestral dari Banco Central Timor Leste(BCTL), baru-baru ini mengumumkan bahwa, jumlah dana perminyakan Timor Lesteyang tersimpan di Bank New York sebesar 18,4 miliyar dolar AS (Rp 273 triliun – kurs Rp 14.840).
Mulai tahun 2021, Pemerintah Timor Lesteakan menggunakan uang simpanan itu sebagai kebutuhan belanja negaranya sebesar 1,4 miliyar dolar AS atau Rp 20,77 triliun.

Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Timor Leste, Xanana Gusmao memberikan keterangan kepada wartawan seusai bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD di Kantor Kemenkopolhukam, Selasa (4/2/2020).
Sehubungan dengan hal itu, banyak orang yang mulai berfikir dan prihatin terhadap keberlanjutan kondisi keuanganTimor Leste.
Sebuah seminar digelar di negara itu untuk mendiskusikan segala prioritas anggaran nasionalTimor Leste.
Dalam acara itu, mantan PM dan juga pejabat kharismatikTimor Leste, Xanana Gusmaopercaya bahwa, negaranya memiliki uang yang disimpan di Bank New York.
Gusmao juga sangat percaya bahwa, Rancangan Anggaran Negara akan lolos di tingkat parlemen, karena memiliki suara mayoritas.
“Anggaran bisa saja lolos, tetapi prosedurnya yang bermasalah,” katanya.
Ia menambahkan, dana perminyakan masih ada.
Tetapi menurutnya, jikalau pemerintah Taur Matan Ruak memimpin hingga 10 tahun lagi, semua orang akan mati.

Berliku, Xanana Gusmao, dan veteran Timor Leste lainnya.
Dia mengambil contoh, untuk membayar hotel yang digunakan untuk karantina, bayar catering juga tidak tahu bagaimana cara kelola uang.
Pemeritahan itu juga tutup mata dalam menganggarkan untuk proyek yang bersifat emergensi, seperti pandemi Covid-19.
“Ini artinya, selama 10 tahun mereka tetap memimpin, lebih baik kita lari saja entah kemana. Kalau 10 tahun mereka memimpin, kotamadya jangan disebutkan,” katanya.
Gusmao menyebutkan, hampir dua tahun lebih pemerintahan yang dipimpin PM Taur Matan Ruak tidak memiliki anggaran negara, hingga saat ini.

Jembatan BJ Habibie di Timor Leste
Sementara itu, PM Taur Matan Ruak mengatakan bahwa, tahun 2020 merupakan tahun yang penuh dengan tantangan.
“Karena pertama, anggaran negara tidak lolos di Parlemen Nasional, dimana negara terpaksan menggunakan dana dua decimal,” katanya.
Selain itu, Ruak menyebut Timor Lestedi landa bencana alam pada 13 Maret 2020 dan 22 Mei 2020, yang merusak rumah warga dan fasilitas publik yang mengalami kerugian mencapai 50 juta dolar AS (Rp 742 miliyar).
“Terakhir, timbul Covid-19 yang bukan hanya memberikan pengaruh terhadap layanan kesehatan, tetapi memicu dampak ekonomi dan sosial,” ujarnya.