"Kami beberapa kali bertemu rumpun tebu rawa yang menghalangi perjalanan yang cukup menguras tenaga untuk dilewati. Kami berhenti dan membersihkan jalan tertutup itu. Ada yang terbayarkan dari perjalanan itu. Banyak ikan gabus bermunculan, berlompatan di permukaan air. Udara yang menyegarkan pikiran sedikit membantu melupakan letih yang menjalar dalam tubuh," cerita Diana.
Diana terkejut, saat tiba di Kampung Kaibusene. Air matanya pun jatuh karena melihat kondisi kampung, di mana masyarakat hidup di atas lumpur bila musim kemarau, dan genangan air rawa saat musim hujan.
Selain itu, saat tiba kondisi kampung sedang sunyi, sebab masyarakatnya ke hutan mencari gaharu dan mengumpulkan makanan sambil membawa anak-anak mereka.
Ironisnya, tulis Diana, guru yang ada untuk sekolah di kampung tersebut selama ini hanya 2 orang, terdiri dari 1 PNS dan 1 honorer. Keduanya harus mengajar lebih dari 50 anak.
Parahnya lagi, bangunan sekolah hanya ada 3 ruangan untuk 6 tingkatan kelas SD. Sehingga, dua kelas harus digabung dalam 1 ruangan.
"Anak-anak bercerita bila ada urusan di kabupaten, sekolah diliburkan dengan batas waktu yang tak tentu. Bila sudah mencapai seminggu lamanya, anak-anak berangkat ke hutan," kata Diana.
Diana, dan dua rekannya yang juga GPDT Antonius Tampani dan Inda Rovitha Meyok, tidak dapat menerima kenyataan ini. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang seharusnya untuk keperluan sekolah seakan tidak tersentuh.

Bendera Indonesia berkibar di bukit yang menjulang di Taman Nasional Lorents, Papua. Di bukit ini telah dibangun sebuah menara repeater Palapa Ring Timur di ketinggian 4.300 meter di atas permukaan laut, yang sekaligus menandai menara tertinggi di Indonesia.
Bagaimana tidak, ruang kelas layaknya gudang harus ditempati untuk menuntut ilmu. Tidak ada seragam, buku, pensil, meja dan bangku layak pakai. Anak-anak harus duduk di lantai, membungkuk untuk belajar menulis.
Ada beberapa bangku namun sudah reyot. Seorang anak mencoba duduk namun roboh seketika.
Diam-diam mereka sepakat untuk duduk di lantai.Saat hendak menulis di meja, mejanya bergoyang.