
Dokter Forensik RS Polri menjawab begini soal hasil autopsi korban tembakan Bharada E. Ternyata ada bekas lem di luka kepala Brigadir J.
Namun dari hasil autopsi RS Polri, dua jari Yosua putus karena terkena alur peluru. Tak mendapat penjelasan dari RS Polri, tim Kumparan Plus meminta analisis ahli radiologi forensik dari RSCM, Dr. dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K), mengenai luka-luka di jasad Yosua berdasarkan foto-foto yang dimiliki keluarga.
Dalam wawancaranya, wartawan itu menunjukkan foto bagian perut kanan dan kiri Yosua di mana terdapat bagian yang membiru. Prijo menyebut, lebam biru lumrah terjadi di setiap jenazah yang kematiannya lebih dari 24 jam atau biasa disebut lebam mayat. Ini disebabkan mengendapnya darah.
Lebam mayat biasanya terletak di bagian dasar atau belakang tubuh. Namun apabila lebam biru bukan di area dasar atau belakang tubuh, kemungkinan karena adanya kekerasan. “Kalau lebam biru di atas samping [seperti di foto], sangat mungkin itu lebam karena rudapaksa,” ucap Prijo.
Lalu foto luka bolong di bagian dada kanan jenazah Yosua ditunjukkan. Prijo menyebut luka tersebut kemungkinan besar luka tembak. Sedangkan mengenai beberapa luka seperti sayatan di wajah Yosua, Prijo menilai kemungkinan bukan luka sayat. Berdasarkan pengalamannya, luka sayat biasanya memanjang. Namun beberapa luka di wajah Yosua, kemungkinan lantaran luka lainnya.
“Ini bukan seperti luka sayat, tetapi seperti kejadian rudapaksa entah karena pukulan benda tumpul atau tangan yang keras,” kata Prijo.
Selain itu, foto seperti jahitan di belakang telinga kiri Yosua ditunjukkan. Dari pengamatan sekilas, Prijo menilai bisa jadi luka tersebut karena sayatan. Ia melihat ada 5 simpul jahitan di belakang telinga kiri Yosua
“Kalau yang memerlukan jahitan biasanya lukanya agak dalam,” ucapnya. Adapun mengenai jahitan di bawah dagu serta luka di dekat pergelangan kaki, Prijo tak bisa memberikan pendapat karena gambar yang kurang jelas.
(*)