Selajutnya kata Lekagak, pada 9 April, penembakan berlanjut dengan melakukan serangan ke pos polisi jam 3 sore. “Kami TPNPB serang pos polisi. Dua anggota polisi dapat tembak,” katanya.
Lekagak sebagai komandan oeprasi umum TPNPB di seluruh tanah Papua meminta kepada Indonesia untuk tidak kejar masyarakat sipil tetapi kejar TPNPB.
Dia juga meminta agara TNI-Polri tidak menembak masyarakat.

Pimpinan OPM atau KKB Papua Lekagak Telenggen terus diburu pasukan gabungan TNI dan Polri. Lekagak sulit ditangkap karena punya alasan ini.
“Kami yang tembak mati. Jadi kalau mau perang itu lawan kami. Jangan kejar masyarakat, Kami bertanggung jawab terhadap penembakan itu.
Kami lakukan penembakan karena kami dapat laporan dari PIS dan bukti seperti pakaiannya korban," kata Lekagak.
Lekagak menambahkan, pihaknya tidak akan membiarkan siapa pun, orang Papua dan non-Papua yang menyamar sebagai tukang ojek, guru, tukang bangunan dan jadi informan untuk TNI-Polri.
“Di setiap kota konflik seperti di INtan Jaya, Ilaga, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Nduga, Yahukimo, Pegunungan Bintang dan di mana saja, tukang ojek, tukang sengsor, tukang bangunan dan guru itu semua mata-mata TNI-Polri. Maka harus hati-hati karena intelijen TPNPB sedang pantau semua," tutup Lekagak.