Tahun 2016, 47% perempuan berusia 20 sampai 29 membuat pernyataan bahwa suami mereka harus mencari uang dan istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Proporsi ini lebih besar daripada kelompok usia lain, termasuk kelompok usia di atas 70 tahun.
"Di Jepang, kehidupan kerja di amat sangat berat dan masih banyak diskriminasi seksual. Jam kerja juga sangat panjang dan banyak sekali tekanan," katanya.
Perawatan anak juga memberatkan kaum perempuan. Ditambah jam kerja panjang menyulitkan ibu bekerja. Pilihan termudah adalah berhenti kerja, tapi ini tak mungkin kecuali punya pasangan yang bisa menanggung.
Di sisi lain, ekonomi Jepang berjalan stagnan, upah justru turun.
Hasilnya, banyak perempuan yang memilih tak berpacaran dan para pria bahkan tak berminat mencoba sama sekali.
Akihiko tak pernah ingin punya pacar di dunia nyata karena merasa tak populer di kalangan perempuan.
Di sekolah, ia dirundung lantaran dirinya seorang otaku, dan ini berlanjut ke dunia kerja. Ia bekerja sebagai tenaga administrasi di sekolah selama 12 tahun. Di sana ia sempat diolok-olok di hadapan para murid oleh rekan kerjanya.
Perundungan ini tak bisa ia tahan lagi sehingga ia berhenti bekerja. Selama dua tahun ia mengunci di kamar dan menolak keluar.
"Saya menjadihikikomori," katanya. Ini adalah istilah di Jepang dan Korea Selatan di mana orang muda, kebanyakan pria, menjadi pertapa di rumah orang tua mereka, menolak keluar, atau bahkan bicara kepada keluarga mereka sendiri.

Akihiko Kondo dan Miku, sesosok anime, seminggu setelah pernikahan mereka.