"Warna biru membuat adem," ujarnya sambil menunjukkan batu pirus di jarinya. Di tasnya juga selalu dibawa beberapa cincin bermatakan batu pirus dari sekitar 200 koleksinya yang sebagian besar didesainnya sendiri.
Tidak sekadar mengoleksi, Djaduk juga sangat paham soal asal batu pirus atau turquoise yang berasal dari kata Persia, fairuz. Persia atau Iran merupakan tempat asal pirus terbaik di dunia.

Gregorius Djaduk Ferianto Lahir di Yogyakarta pada 19 Juli 1964, putra bungsu koreografer Bagong Kus
Di Indonesia, pirus umumnya dibawa para ulama masa lalu yang berkelana ke tanah Arab dan kemudian membawanya ke Indonesia sebagai oleh-oleh.
Karena itu, Djaduk rajin berburu batu pirus ke daerah-daerah penyebaran Islam masa lalu, seperti Demak, Kudus, Gresik, dan Cirebon.
Setelah tampil bersama kelompoknya, Kua Etnika, di Festival Tepi Sungai atau Museums Uferfest di Frankfurt, Jerman, Djaduk juga mengajak anggota delegasi Indonesia untuk berburu batu pirus di pelosok Jerman. Siapa tahu ada yang bagus.
"Pokoknya saya mau menularkan virus pirus," kelakarnya, Minggu (30/8/2015), di Frankfurt.
Pada tahun 2015 Djaduk Ferianto kaget bukan main saat melihat makam ayah dan ibunya berantakan. Tak hanya itu, batu akik panca warna milik sang ayah, Bagong Kussudiarja juga ikut raib.
Djaduk baru menyadari hal itu setelah membaca berita tentang hilangnya batu akik di makam seniman Saptohoedojo di Kompleks Makam Seniman Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Rabu (8/4/2015).
"Saya baca koran soal makam Pak Sapto (Saptohoedojo), laluenggakbisa tidur, dan pagi-pagi saya pergi ke makam bapak.Lah, benar, pintu makam sudah terbuka, padahal digembok. Benar lagi, batu panca warna yang ada di atas makam amblas (hilang)," kata Djaduk di Yogyakarta, Selasa (14/4/2015).
Diduga, pelaku ingin menggunakan batu nisan Bagong sebagai bahan dasar pembuatan akik. Meski hanya mengikis bagian atas, Djaduk tetap gemas.