Fotokita.net - Ramai acara Habib Rizieq Shihab hingga 2 kapolda dicopot, sosok ini mendadak ingatkan Indonesia harus waspada pada Papua, ada apa?
Sejak kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab ke Tanah Air, sejumlah acara yang digelarnya memicu kerumunan massa saat pandemi Covid-19 belum lagi berakhir.
Sejumlah kerumunan massa belakangan ini di daerah Jakarta dan Jawa Barat memang melibatkan Habib Rizieq Shihab.
Ujungnya, publik dibuat heboh.Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy dicopot dari jabatannya.
Pasca pencopotan Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy, banyak yang mulai menganalisis.
Apakah ini kebijakan dan keberanian Kapolri semata atau ada campur tangan istana untuk memberi sanksi kepada kedua kapolda tersebut.
Namun, saat publik menyoroti peristiwa heboh itu, kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua ternyata terus berulah.
Bahkan kini mereka secara blak-blakan mengajak baku tembak pasukan gabungan TNI-Polri.
Baku tembak itupun membahayakan warga sipil lantaran berada di tengah pemukiman.
Selain itu, mereka juga melakukan kontak senjata dengan pasukan TNI-Polri di depan kantor bupati setempat.
Kontak senjata antara aparat keamanan TNI-Polri dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) terjadi di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, Rabu (23/9/2020) siang.
Aksi saling tembak tersebut dimulai oleh KKB yang terlebih dahulu melepaskan tembakan.
"Mereka hanya ingin menganggu," kata Dandim 1705/Paniai Letkol Inf. Benny Wahyudi, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu.

:quality(100)/photo/2020/10/05/248494753.jpg)
Letjen TNI Tri Soewandono, Ketua Tim Pengarah TGPF Kasus Kebrutalan KKB Papua.
Kontak senjata di Sugapa terjadi di dua titik, yaitu di depan Kantor Bupati Intan Jaya dan Pasar Sugapa.
Benny memastikan kejadian tersebut tidak sampai membuat jatuhnya korban.
Sebelumnya diberitakan, lima KKB yang sebelumnya berada di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, telah berada di Distrik Hitadipa, Intan Jaya.
KKB tak cuma menjadikan Intan Jaya sebagai tempat persinggahan seperti Tembagapura, tetapi juga menjadikan Distrik Hitadipa sebagai wilayah perang.
Saat ini, Polri dan TNI berusaha menambah pasukan di Intan Jaya.
Penambahan pasukan karena sejak 14 September, situasi di Intan Jaya tidak kondusif disebabkan sejumlah penembakan yang dilakukan KKB.
Namun, mereka terkendala dari maskapai penerbangan yang enggan mengangkut pasukan karena khawatir ditembak KKB.
Belakangan ini, kontak senjata kembali terjadi di Papua.
Pada Jumat 6 November 2020, kontak senjata terjadi di Distrik Titigi, Kabupaten Intan Jaya, Papua.
Dilaporkan satu prajurit Tentara Nasional Indonesia ( TNI) bernama Pratu Firdaus gugur terkena tembakan kelompok kriminal bersenjata ( KKB). Lalu, satu prajurit alami luka-luka.
Penyerangan tersebut, menurut pihak TNI, terjadi saat para anggota sedang melakukan patroli di Distrik Titigi.
Saat ini, pihak TNI mengaku tengah melakukan investagasi untuk mengungkap kronologi terjadinya kontak senjata itu.
"Memang benar ada laporan tentang kontak tembak yang mengakibatkan satu anggota TNI dari Yonif 400 Raider meninggal," kata Komandan Korem 173/PVB Brigjen TNI Iwan Setiawan saat dihubungi, dikutip dari Antara.
Korban dievakuasi ke Mimika
Sementara itu, menurut Kapen Kogabwilhan III Kol CZI Gusti Nyoman Suriastawa, Pratu Firdaus merupakan anggota Satgas Yonif R 400/BR.
Rencananya, jenazah korban akan dievakuasi ke Mimika pada Sabtu (7/11/2020).
Suriastawa mengatakan, penyerangan KKB sudah meresahkan warga. KKB disebut tak hanya menyerang TNI, namun juga warga sipil.
"Bukan hanya prajurit TNI/Polri yang memang bertugas, warga sipil juga jadi sasaran kebiadaban KKB," kata dia.
Mencegah jatuh korban
Sementara itu, menurut pengamat militer dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis (LESPERSSI) Beni Sukadis, untuk mengantisipasi bertambahnya korban di Papua akibat serangan KKB, pemerintah perlu membuka ruang dialog.
"Kebijakan yang harus diambil adalah melakukan dialog dengan kelompok signifikan di Papua untuk melakukan negosiasi soal masa depan Papua," ujar Beni kepada Kompas.com, Jumat (6/11/2020) malam.
Menurutnya, pemerintah ditantang untuk melakukan pendekatan tanpa memunculkan respon kekerasan dari KKB.
"Persoalannya, pemerintah sekarang punya komitmen tidak dalam melakukan negosiasi dengan pihak di Papua," kata dia.
Wakil Bupati Tabrak Mati Bripka Polisi di Polimak Jayapura
Ini fakta yang terjadi di Papua pada September 2020 lalu. Saat itu sebuah insiden kecelakaan di Jayapura dan menewaskan seorang anggota polisi di Papua.
Kecelakaan tersebut melibatkan sebuah sepeda motor dan mobil yang masing-masing dikendarai oleh Bripka Christin M Batfeny dan Wakil Bupati Yalimo, Erdi Dabi.
Saat kejadian, Wakil Bupati Yalimo diduga dalam pengaruh minuman keras.
Terungkap, sebelum menabrak Bripka Christin M Batfeny hingga tewas, Wakil Bupati Yalimo, Erdi Dabi pesta minuman keras (miras).
Ironisnya, dia meneggak miras itu di depan Kantor Gubernur Papua.
"Dari pemeriksaan, (tersangka) mengakui bahwa yang mengemudikan itu dia sendiri. Ia juga mengakui sebelumnya kurang lebih jam tiga (pagi) minum miras (minuman keras) di depan Kantor Gubernur Papua," kata Kasat Lantas Polresta Jayapura, AKP Viky Pandu Widhapermana di Jayapura, Senin (21/9/2020).
Kepada polisi, Erdi mengaku menenggak minuman keras itu bersama rekannya AM setelah pulang dari Jembatan Youtefa.
Dia mengonsumsi tak hanya satu jenis miras dan dengan jumlah yang cukup banyak sehingga membuatnya hilang kesadaran.
"Minumnya Vodka empat botol (250 ml), bir enam kaleng, dan dihabiskan berdua hingga tersisa satu kaleng," ujar Viky.
Sebelumnya diberitakan, Polresta Jayapura menetapkan Wakil Bupati Yalimo Erdi Dabi sebagai tersangka kasus kecelakaan lalu lintas di Jayapura, Papua, pada Rabu (16/9/2020) pagi.
Kecelakaan itu menewaskan seorang polisi wanita (polwan) bernama Bripka Christin Meisye Batfeny (36) yang hendak mengikuti apel di Mapolda Papua.
Saat sedang mengendarai motor, ibu tiga anak itu ditabrak mobil Toyota Hilux yang dikendarai Erdi di daerah Polimak, Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua.
Duka keluarga
Suami korban, Bripka Rifael Mubarak, mengingat pesan terakhir mendiang istrinya sebelum sang istri berangkat dengan motornya kemarin pagi menuju Mapolda Papua.
Rifael menuturkan, istrinya itu memintanya untuk menjaga tiga anak mereka.
Rifael menyebut bahwa seharusnya yang mengendarai motor itu adalah dirinya, bukan sang istri.
"Kita berangkat ke kantor, ibu jalan duluan pakai motor. Harusnya yang pakai motor itu saya," tutur Rifael sambil memeluk anak kedua dan ketiganya di rumah duka, Kamis (17/9/2020).
"Ibu pesan, 'Pa, saya pergi duluan ke kantor, tolong lihat anak-anak, mereka ada ujian online',"sambung dia.
Rifael tak menyangka perjalanan istrinya kemarin pagi itu adalah yang terakhir kalinya.
Kecelakaan tragis yang dialami korban membuat Rifael, terlebih ketiga anaknya begitu terpukul saat melihat orang yang mereka cintai sudah terbujur kaku.
"Waktu ibu meninggalkan kami, anak-anak lagi sementara tidur. Begitu lihat ibunya pulang sudah dalam keadaan meninggal, mereka sangat syok, tidak tahu mau bilang apa lagi," kata dia.
Rifael berharap penabrak istrinya bisa dihukum seberat-beratnya karena telah menghilangkan sosok ibu bagi ketiga anaknya.
Diusut tuntas
Polisi memastikan kasus tersebut akan ditangani hingga tuntas meski pelaku adalah seorang pejabat.
"Kasus kecelakaan ini dalam penanganan unit lalu lintas Polresta Jayapura Kota dan pelaku ED dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut oleh penyidik satuan lalu lintas," kata Gustav.
Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw ikut berduka atas meninggalnya Bripka Christin.
Paulus memerintahkan Dirlantas Polda Papua untuk menyita barang bukti dan memproses hukum pelakunya.
Baca Juga: Ogah Kehilangan Bagian Tubuhnya karena Kecelakaan, Pria Ini Nekat Rebus dan Makan Jarinya yang Terputus, Ngaku Penasaran dengan Rasa Daging Manusia
‘’Saya sudah perintahkan Dirlantas untuk memproses pelaku penabrak, menyita barang bukti karena akibat yang ditimbulkan sangat fatal,’’ ujar Paulus dikutip dari Tribun-Medan.com
‘’Saya sangat kehilangan anggota yang sangat baik, disiplin dan rajin. Kejadian ini sangat tak terduga. Polda Papua sangat kehilangan,’’ ujarnya.
Paulus menyesalkan dan prihatian seorang pejabat mengendarai mobil juga dalam kondisi mabuk.
‘’Seorang perjabat memiliki kemampuan intelektual yang cukup tetapi masih mabuk-mabukan dengan minuman keras, perilaku ini sangat memprihatinkan dan mengecewakan, dampak dari mabuk-mabuknya itu sangat fatal membuat orang lain kehilangan nyawa," bebernya.
Kepada keluarga besar almarhumah Bripka Christin, Paulus menyampaikan turut berduka cita dan semoga keluarga diberi kekuatan.
‘’Kepada keluarga besar almarhumah saya menyampaikan duka cita yang mendalam, kita semua kehilangan orang yang baik, dan kepada semua pihak yang turut merasakan duka cita dan bersimpati, saya juga mengucapkan terima kasih,’’ jelasnya.
Berdasarkan penelusuran Tribun-Medan.com, Pilkada Yalimo 2020 diikuti dua bapaslon yakni petahana Bupati Lakius Peyon-Nahum Mabel dan Erdi Dabi-Jhon W Wilil.
Erdi Dabi adalah anak Bupati Yalimo pertama Er Dabi yang meninggal 2016. Setelah Er Dabi meninggal, wakilnya Lakius Peyon diangkat menjadi Bupati Yalimo.
Sedangkan anak Er Dabi, yakni Erdi Dabi dipilih DPRD Yalimo menjadi Wakil Bupati Yalimo.
Kini Lakius Peyon dan Erdi Dabi akan bersaing di Pilkada Yalimo 2020.
Sementara itu, terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat membuat kekhawatiran tersendiri bagi Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN. Dia lantas menyinggung soal Papua.
Joe Biden terpilih setelah sukses mengantongi 270 lebih electoral vote sebagai syarat kemenangan dan tampil sebagai Presiden Amerika Serikat terpilih.
Kemenangan Joe Biden tentunya disambut banyak pihak di seluruh dunia.
Namun siapa sangka dibalik kemenangan Joe Biden ternyata ada kekhawatiran untuk Indonesia.
Hal ini diungkap oleh Eks Menteri BUMN Dahlan Iskan ikut memberikan pandangannya terkait panasnya persaingan di Pilpres AS 2020 antara petahana Donald Trump melawan Joe Biden.
Dahlan Iskan
Dilansir dalam tayangan YouTube DI's Way, Jumat (6/11/2020), Dahlan Iskan mengatakan bahwa Indonesia akan lebih diuntungkan dengan terpilihnya Donald Trump ketimbang Joe Biden.
Dirinya menyinggung soal gaya kepemimpinan dari Donald Trump yang diketahui sebagai anti China.
Kondisi tersebut yang dinilai akan menguntungkan untuk Indonesia, khususnya dalam aspek ekonomi.
Alasannya, beberapa perusahaan dari China akan kesulitan mengembangkan sayapnya di Amerika Serikat.
Sehingga akan menyasar Indonesia.
Begitupun sebaliknya, dari Amerika Serikat akan lebih senang bekerja sama dengan Indonesia, daripada dengan China.
"Jadi kalau Trump yang menang karena akan bermusuhan terus dengan Tiongkok, mungkin beberapa perusahaan Tiongkok akan lari ke Indonesia salah satunya," ujar Dahlan Iskan.
"Kalau tidak kalah dengan Vietnam dan Kamboja," imbuhnya.
Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi, berswafoto bersama warga yang menyambut kunjungannya di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, Minggu (27/10/2019). Dalam kunjungannya, Jokowi dan Ibu Negara Iriana menikmati senja di Kaimana dengan duduk di tepi anjungan Laut Arafuru saat langit mulai memerah
Sementara itu andai Joe Biden yang memenangi Pilpres 2020, Dahlan Iskan justru memberi peringatan kepada Indonesia.
Dirinya mengingatkan bahwa Joe Biden bersama Partai Demokrat akan mendukung penuh hak-hak kemerdekaan.
Selain itu juga menolak keras adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Dahlan Iskan lantas menyinggung persoalan yang tengah terjadi di Tanah Air, kaitannya dengan Papua.
"Kan mungkin kalau Biden yang akhirnya terpilih nanti, ya Indonesia harus waspada dengan Papua, karena Demokrat ini kan lebih mementingkan hak-hak asasi manusia, kemudian lebih mementingkan hak-hak kemerdekaan," kata Dahlan Iskan.
"Sehingga mungkin Indonesia lebih harus berjuang bagaimana memprotek Papua," jelasnya.
Sama halnya dengan Indonesia, China dinilai akan memiliki persoalan sama ketika Joe Biden dipastikan akan menduduki Gedung Putih selama empat tahun ke depan.
"Tiongkok juga harus keras berjuang memproteksi Tibet, memproteksi Xinjiang dan Hongkong dan Taiwan," pungkasnya.(*)