Fotokita.net-Dampak krisis hebat yang melanda seluruh dunia, membuat negara 'pemberi utang' sekelas China juga dalam kesulitan yang sama.Ekonomi dunia luluh lantak akibat wabah virus corona membuat susah banyak negara.
Saat ini, nyaris banyak negara di seluruh dunia dibikin bingung untuk kembali mengangkat performa ekonomi mereka dari jurang krisis.
Dalam sebuah kasus kecil misalnya Pakistan menelpon mitra-mitranya di Beijing dan membuat permintaan mendesak, untuk merekonstruksi miliaran dollar dan bentuk pinjaman dari China.
Permintaan serupa bahkan dibuat berturut-turut ke Beijing oleh Kirgistan, Sri Lanka dan banyak negara Afrika lainnya.
Baca Juga: Viral Suara Dentuman Misterius Hebohkan Warga Bandung dan Sekitarnya, Begini Penjelasan Ahli

:quality(100)/photo/2020/05/20/4045090399.jpeg)
Bukan Xi Jinping Maupun Mao Zedong, China Bisa Menempati Posisi 2 Negara dengan Perekonomian Terbesar Dunia Berkat Orang Ini
Semuanya adalah debitor besar, dalam jumlah puluhan miliar dollar dari China.
Mengutip 24h.co.vn, usulan semacam itu membuat China dalam kondisi yang sulit.
Dalam upayanya untuk menjadi kreditor terbesar di negara-negara berkembang, selama dua dekade terakhir China meningkatkan pinjaman global.
Mengalirkan ratusan miliar dollar ke negara-negara miskin untuk memperluas pengaruhnya.
Jadi Biang Kerok Pandemi Corona, Presiden China Janji Beri Bantuan Internasional dan Vaksin Covid-19 Secara Global Bila Tersedia
Banyak negara meminjam uang ke China, sementara mereka harus menggadaikan pelabuhan penting, tambang, atau aset berharga lainnya.
Menurut Amerika kebijakan Beijing menghamburkan uang untuk memberi pinjaman ini, disebut sebagai "diplomasi perangkap utang."
Amerika juga memperingatkan, negara-negara kecil untuk berhati-hati dalam meminjam uang dari China.
Namun, dalam konteks pandemi berlangsung dan berdampak langsung pada ekonomi dunia, China menghadapai risiko kehilangan pinjamannnya.
Ilustrasi - China terancam bangkrut di tengah pandemi Covid-19.
Karena negara debitur, mengatakan mereka tidak bisa membayar utang ke China.
Jika China setuju untuk merekonstruksi atau menghapus utang, ini akan memberikan tekanan besar pada keuangan negara.
Karena,pada saat yang sama semua orang di dunia dalam kondisi sulit akibat mewabahnya Covid-19.
Namun, jika China memutuskan untuk memulihkan utang dan tetap memberikan tagihan pada negara-negara yang terpukul, akan membuat negara pengutang membenci China.
Presiden Jokowi dengan Presiden China Xi Jin Ping.
Padahan tujuan China memberikan utang, adalah untuk memberikan pengaruh citra sebagai pemimpin dunia dan dalam masa pendemi ini sangat berpengaruh besar.
"Dalam hal ini Tiongkok dirugikan, jika tekad untuk mengambil tagihan, dan negara tersebut tidak bisa membayar, China akan mengambil aset strategis di negara yang tidak mampu," jelas Andrew Small, anggota senior dana Marshall Jerman.
Hal itu akan mempengaruhi reputasi Tiongkok di mata dunia, mempertanyakan tanggung jawab China sebagai negara penyebab bencana global ini.
Sementara itu, China diketahui telah membelanjakan 2 miliar dollar (Rp29 triliun) untuk mencegah epidemi.
Sedangkan, China telah meminjamkan setidaknya 350 miliar dollar AS (Rp5.148 triliun) ke banyak negara, sekitar setengah jumlah dari negara peminjam ekonominya sangat terpukul.
"Mengurangi utang, mungkin paling efektif yang bisa dilakukan China, masih ada untung alih-alih menghapus utang," kata Tong Vi, pejabat departemen penelitian Kementerian Perdagangan Tiongkok.
Beberapa orang China mulai mempertanyakan, apakah uang yang mereka hasilkan akan terbuang sia-sia di luar negeri.
Tiongkok dikenal mengenakan suku bunga tinggi, dan jatuh tempo yang pendek ketika memberikan pinjaman, namun China mudah memberikan pinjaman asal diberi jaminan aset nasional penting.
Virus Covid-19 berawal dari China, masuk ke Indonesia.
Beberapa negara berutang pada Chia adalah Djibouti 80% produk domestik bruto, 20% di Ethiopia, 40 % di Kysrgyztan.
Menurut para ahli, tekanan pada pemulihan utang China, hanya akan meningkatkan dampak ekonomi di tengah pandemi ini.
Semakin banyak negara meminta penghapusan utang oleh China terutama negara Afrika.
Baca Juga: Sesumbar Mampu Sembuhkan Corona, Seorang Pemuka Agama Meninggal Lantaran Lakukan Tindakan Sepele Ini
Ethiopia memiliki ekonomi yang tumbuh cepat di Afrika, negara itu mengusulkan penghapusan sebagian utangnya ke China.
Negara itu juga menjadi wakil dari banyak negara Afrika yang berutang uang ke China, berupaya menegosiasikan proposal tersebut.
"Masih terlalu dini mengatakan, tapi saya pikir China akan memahami kesulitan yang sedang kami hadapi," kata Eyop Tekalign Tolina, Menteri Keuangan Ethiopia.
Setidaknya empat dari enam satuan tempur kapal induk China yang direncanakan telah beroperasi pada 2035 disebut bakal menggunakan tenaga nuklir.
Hal tersebut sebagai salah satu upaya raksasa Asia itu dalam mengimbangi kekuatan angkatan laut AS.
Demikian menurut para pakar militer di China. Para pakar mengatakan, setelah mencoba untuk menyusul ketertinggalan dengan AS dalam teknologi kapal induknya selama beberapa dekade, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China kini telah semakin dekat untuk menyamai negara adikuasa itu.
Meski demikian, Beijing masih akan tetap tertinggal dalam hal pengalaman di pertempuran nyata dengan AS, yang telah banyak terlibat dalam peperangan.
Selain bertenaga nuklir, semua kapal induk baru China juga diharapkan akan dilengkapi dengan sistem pelontar elektromagnetik seperti yang digunakan oleh AS.
Liaoning, saat ini menjadi satu-satunya kapal induk yang beroperasi di perairan Pasifik
Sistem pelontar pesawat elektromagnetik milik AS, yang biasa disebut EMALS, mampu meluncurkan pesawat lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan dengan sistem diesel yang sudah mulai ketinggalan zaman.
Saat ini China baru memiliki satu kapal induk yang telah beroperasi, yakni Liaoning, yang mulai bertugas pada 2012.
Satu kapal induk lainnya, Tipe 001A, yang sepenuhnya dibuat di China, kini masih dalam tahap uji pelayaran.
"Kapal induk bertenaga nuklir China dengan sistem peluncuran mirip EMALS, diperkirakan akan mulai beroperasi dengan Angkatan Laut PLA pada 2035."
"Jumlah total kapal induk tersebut setidaknya enam unit, meski diyakini hanya empat yang akan ditugaskan di garis depan," ungkap Wang Yunfei, pakar angkatan laut, yang juga mantan pejabat di kapal perusak Angkatan Laut PLA.
"Negara ini harus terus berkembang hingga sampai pada level yang sama dengan AS," tambahnya, seperti dilansir SCMP.
Kapal Induk Liaoning milik China
Beijing bermaksud memperluas unit tempur kapal induknya demi memenuhi ambisi angkatan laut globalnya, serta mempertahankan kepentingan luar negeri yang terus bertumbuh.
Proses konstruksi kapal induk Tipe 002, yang bertenaga diesel konvensional dan yang pertama dilengkapi sistem peluncur elektromagnetik, telah dimulai tahun lalu.
Wang melihat Beijing tidak akan memangkas anggaran untuk pembangunan kapal induknya meski terjadi perlambatan perekonomian karena perang dagang dengan AS.
"Anggaran untuk modernisasi militer China tidak akan dipotong, bahkan jika (Beijing) memutuskan menyatukan kembali Taiwan (dengan kekuatan)."
"Dalam skenario perang, (Beijing) dapat memangkas pendanaan untuk infrastruktur, namun akan tetap meningkatkan pengeluaran untuk militer," ujar Wang.