Fotokita.net - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD telah menyebutkan, pemerintah resmi memberi label teroris padaTentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB - OPM).
Mahfud MD punlangsung meminta aparat TNI-Polri menindak tegas kelompok itu. Kata dia, tak sedikit korban juga berasal dari warga sipil Papua.
“Pemerintah sudah meminta kepada Polri, TNI, BIN, dan aparat-aparat terkait itu segera melakukan tindakan secara cepat, tegas, dan terukur,” kata Mahfud dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Polhukam.
Menurut Mahfud, pelabelan teroris sudah berdasar pada ketentuan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Dia menyebut, tindakan KKB sudah sepatutnya masuk kategori teroris sesuai definisi dalam beleid tersebut.
Jika merujuk pada beleid itu, terorisme merupakan perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas.
Sejak dapat label teroris,Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papuakini berani koar-koar menantang pasukan TNI dan Polri.
Lewat akun TikTok, KKB Papua atauTentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB - OPM) sesumbar melontarkan tantangan pada TNI dan Polri dalam sebuah video.
Mereka menantang TNI dan Polri bertempur di hutan Nduga, Papua.
Dalam video yang dibagikan lewat TikTok, KKB Papua diwakili oleh tiga orang anggotanya dengan membawa senjata laras panjang.
Salah satu dari mereka memberikan ancaman pada pasukan TNI dan Polri, yang disebut-sebut akan segera datang ke Bumi Cendrawasih.
Anggota KKB Papua yang lantang berbicara di depan kamera itu, mengaku tak takut meski sudah mendapatkan label teroris dari pemerintah.
Lebih jauh lagi, anggota KKB ini menyebutkan, siap menghadapi berapapun personel yang diturunkan oleh TNI dan Polri untuk menumpas habis mereka di belantara Papua.
Ilustrasi KKB Papua atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB - OPM) saat berpose dengan senjata laras panjang.
Dia berujar, meski TNI dan Polri siap menambah pasukan untuk menumpas KKB Papua, mereka siap melayaninya. Mereka tak akan mundur satu langkah pun.
"Kami tidak akan mundur satu langkah pun, kau mau kirim berapa personel pun tetap kita layani."
"Anda sudah kirim berapa personel, itu tidak akan (bisa) keluar," kata seorang anggotaTPNPB - OPMsambil menunjuk-nunjuk seperti dikutip dari video TikTok Minggu (2/5/2021).
Seperti kita ketahui, TNI sudah menyiapkanpasukan tempur untuk diterjunkan ke Papua. Unit tempur andalan TNI ini adalah Batalyon Infanteri (Yonif) 315/Garuda yang mendapat julukan pasukan setan.
Para personel pasukan setansudah siap untuk ditugaskan menjaga stabilitas keamanan di Papua.
Sejak beberapa waktu lalu, para prajurit Batalyon Infanteri 315/Garuda atau Yonif 315/Garuda TNItelah dilatih menembak runduk atau Sniper.
Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo meninjau latihan menembak yang dilaksakan personel Yonif 315/Garuda di Ciptata, Kabupaten Bandung Barat.
Kekuatan kelompok teroris OPM dibeberkan pengamat teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst, Harits Abu Ulya.
Kekuatan yang dimiliki teroris OPM atau KKB Papua itu tak tanggung-tanggung menjadi medan perang yang sulit ditembus Polri, utamanya tim Densus 88.
Lebih jauh Haris mengatakan, “Saya duga tidak semudah membalik tangan untuk menumpas kelompok ini. Polri (terutama Densus88) sebagai ujung tombak terdepan untuk melakukan penindakan.”
Menurut Haris, seperti dikutip Pojoksatu.id, Sabtu (1/5/2021), medan perang yang dimaksud, yaitu OPM lebih menguasai pegunungan atau tempat persembunyian yang ada di Papua, sehingga hal itu menjadi tantangan besar bagi tim Densus untuk melawan KKB.
“Medan yang cukup berat, apa Densus 88 terlatih untukk naik turun gunung. Apakah bisa hadapi taktik perang gerilya di pegunungan?” ungkapnya.
“Teroris OPM sudah menahun, dan mereka membaur dengan masyarakat juga. Jika tidak hati-hati eksesnya teroris OPM bisa mengobarkan perlawanan melawan aparat dengan dukungan luas masyarakat,” tambah Haris.
Ilustrasi Tim Densus 88 Antiteror
(*)