Pelayaran yang berlangsung secara rahasia itu berlangsung lancar karena kehadiran Karel Doorman di Irian Barat tidak diwarnai upaya pencegatan oleh militer RI.
Dalam pelayaran dari Belanda ke Irian Barat, Karel Doorman dikawal oleh destroyer dan satu kapal tanker.
Untuk menghindari intrik politik dengan Mesir yang merupakan sekutu Indonesia, Belanda punya taktik sendiri.
Karel Doorman dan kapal pengiringnya segaja menghindari Terusan Suez dan memilih berlayar mengitari tanduk Afrika.
Karel Doorman yang saat itu mengangkut pesawat tempur Hawker Hunter sebanyak 12 unit kemudian berlabuh di Freemantle, Australia, dan selanjutnya meneruskan perjalanan final ke Irian Barat.
Tapi setelah mengetahui Indonesia memiliki sejumlah pesawat pengebom Tu-16 KS yang bisa menghancurkan kapal induk dengan hanya menjatuhkan satu bom Kennel, Karel Doorman memilih segera kabur meninggalkan perairan di Irian Barat.

Tu-16 KS
Paskakonflik Indonesia-Belanda terkait Irian Barat, Karel Doorman terus dioperasikan oleh AL Belanda.
Pada 26 April 1968, salah satu mesin Karel Doorman terbakar.
Untuk mengganti mesin yang rusak, dipasang mesin secara kanibal yang semula milik kapal perang HMS Leviathan.