Fotokita.net - Komodo adalah kadal terbesar di dunia. Predator ini dengan berat hingga 90 kilogram dapat mendeteksi mangsanya dari jarak 12 kilometer. Meskipun mereka berdarah dingin, komodo dapat meningkatkan metabolisme mereka hingga mendekati tingkat mamalia, yang memberi mereka kecepatan dan daya tahan tinggi. Berbeda dengan jenis kadal lainnya yang cepat lelah, komodo dapat melaksanakan kegiatan aerobik berkelanjutan.
“Kita tahu dari mereka yang bekerja dengan komodo bahwa komodo mampu melakukan aktivitas aerobik yang berkelanjutan, yaitu berenang, berlari, atau berjalan jarak yang sangat jauh,” tutur Joseph R Mendelson III, Direktur Penelitian Kebun Binatang Atlanta.

:quality(100)/photo/2019/07/29/646904934.jpg)
Komodo memakan monyet.
Oleh karena itu para ilmuwan dari berbagai lembaga itu meneliti bagaimana DNA dari kadal yang luar biasa ini mengkodekan karakteristik fisik yang menakjubkan ini. Penelitian telah dimulai sembilan tahun lalu.
Komodo dikenal mampu bergerak cepat dan tubuhnya berdaya tahan tinggi mirip seperti mamalia. Penelitian genom menunjukkan, rahasia kemampuan komodo itu terletak pada evolusi gen yang menyebabkan peningkatan kemampuan metabolisme selnya mendekati kemampuan mamalia.
Baca Juga: Suka Duka Pelihara Si Raksasa Sumatra, Ikut Main Air Hingga Atasi Masuk Angin
komodo dragon
Penelitian itu berjudul “Genom Komodo Mengungkapkan Adaptasi dalam Sistem Kardiovaskular dan Sensor Kimia Biawak”. Penelitian dimuat dalam jurnal Nature Ecology & Evolution edisi 29 Juli 2019, yang juga dipublikasikanScience Daily. Penelitan dilakukan tim ilmuwan Amerika Serikat dari Institut Gladstone, Universitas California di San Fransisco, dan Kebun Binatang Atlanta.
“Saya pergi ke Pulau Komodo bertahun-tahun yang lalu sebagai turis dan saya melihat komodo di alam liar di sana. Aku tidak akan pernah menduga kalau suatu hari aku akan meneliti genom mereka. Kami bahkan tidak memiliki genom manusia pada waktu itu!” ujar Katherine Pollard, Direktur Institut Gladstone untuk Ilmu Data dan Bioteknologi, seperti dikutip Science Daily.
Ilustrasi Komodo
Tim peneliti itu mempelajari DNA dua komodo dari Kebun Binatang Atlanta bernama Slasher dan Rinca. Kedua komodo ini diambil darahnya untuk penelitian pengurutan genom. Setelah para ilmuwan memiliki urutan DNA, mereka menggunakan alat komputasi untuk membandingkannya dengan reptil lain dan melihat apa yang membuat genom komodo unik.
Secara khusus, mereka mencari perubahan dalam genom yang membantu komodo beradaptasi dengan lingkungannya. Genom ini telah mengalami proses evolusi yang disebut seleksi positif. Temuan luar biasa adalah bahwa seleksi positif telah membentuk beberapa gen yang terlibat dalam fungsi mitokondria, pembangkit tenaga energi sel yang mengontrol seberapa baik jantung dan fungsi otot lainnya.
Seekor komodo betina mengecap udara di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Seti
“Analisis kami menunjukkan bahwa pada komodo, banyak gen terlibat dalam bagaimana sel membuat dan menggunakan energi berubah cepat dengan cara meningkatkan kapasitas aerobiknya,” kata Abigail Lind, peneliti lain di Institut Gladstone.
Perubahan-perubahan ini kemungkinan merupakan kunci bagi kemampuan komodo untuk mencapai metabolisme hampir seperti mamalia. “Studi kami menunjukkan bahwa rahasianya ada dalam adaptasi mitokondria untuk meningkatkan curah jantung mereka,” kata Mendelson.
Baca Juga: Sampah Plastik Bikin Kita Jijik Pada Pemandangan di Kali Bekasi Ini
Komodo.
Selain itu, para peneliti menemukan bahwa komodo, bersama dengan beberapa kadal lainnya, memiliki sejumlah besar gen yang menyandikan sensor kimia yang dikenal sebagai reseptor vomeronasal. Reseptor ini adalah bagian dari sistem sensorik canggih yang memungkinkan hewan mendeteksi hormon dan feromon.
Jenis penginderaan ini terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk pengenalan kerabat, pilihan pasangan, penghindaran pemangsa, dan perburuan. Dalam genom komodo, tim menemukan lebih dari 150 salinan satu kelas gen reseptor vomeronasal. Tim juga menemukan bahwa banyak dari gen-gen ini unik untuk setiap spesies kadal, yang memungkinkan reseptor vomeronasal komodo dapat berfungsi dengan cara spesifik komodo.
Beberapa ekor komodo berteduh di bawah rumah panggung yang menjadi salah satu kantor Taman Nasional
“Akan menarik untuk menentukan apakah ini menjelaskan kemampuan komodo untuk mendeteksi mangsa dari jarak yang begitu jauh,” kata Benoit Bruneau, peneliti di Institut Gladstone.
Arti penting dari penelitian ini, kata Mendelson, jauh melebihi komodo. Hasil penelitian Ini memberi kerangka kerja memahami dasar genetik semua karakteristik hewan berevolusi. Proyek ini juga mengedepankan pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati dan peran penting yang dapat dimainkan kebun binatang dalam penelitian skala luas tanpa mencelakai binatang. (Subur Tjahjono/Kompas.id)