Fotokita.net - Salah satu yang menarik perhatian dari aksi unjuk rasa itu adalah hadirnya para pelajar secara masif. Laporan dari lapangan menyebutkan, mereka adalah para pelajar Sekolah Kejuruan Teknik (dulu bernama STM).
Tiga kali dalam dua pekan mereka turun ke jalan. Saat ditanya, banyak dari mereka yang tidak paham benar apa yang tengah diperjuangkan.
Dua pekan berturut-turut, demo mahasiswa yang terjadi di ibu kota dan sejumlah daerah menghiasi halaman-halaman pemberitaan. Di sejumlah daerah, seperti di Yogyakarta, demo berlangsung damai. Sementera di daerah lain, termasuk Jakarta, demo berakhir rusuh dari sore hingga dini hari. Apa yang sesungguhnya terjadi?
Belakangan ada video viral di media sosial yang menggambarkan dua orang berseragam SMA. Mereka bukan pelajar, tapi petugas keamanan dan nelayan. Di latar belakang video itu menampilkan gambar kantor polisi.

:quality(100)/photo/2019/09/26/1505210998.jpg)
Pelajar melakukan Aksi Tolak RUKHP di Belakang Gedung DPR/MPR, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (25/9/2019).
AIMAN berusaha mencari alamat mereka. Berhasil. AIMAN mendapatkan wawancara eksklusif. Salah seorang dari mereka saya temui di dalam ruang tahanan Polres Jakarta Utara. Satu orang lainnya saya temukan berada di Tipar, Cakung, Jakarta Utara.
Saya mewawancarai ibu kandungnya. “Saya hanya diberikan Rp 10 ribu,” kata Widodo, salah seorang demonstran “jadi-jadian” kepada saya.
Sejumlah pelajar terlibat kerusuhan di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Mereka membakar sejumlah sepeda motor di depan pos polisi Palmerah.
Tak dibayar hingga ditangkap polisi
Rupanya banyak dari mereka yang belum dibayar dan ditelantarkan. Saat bentrok dengan polisi sebagian dari mereka kelelahan dan tak kuat berlari. Polisi menangkap mereka dengan mudah. Dari pengakuan mereka, kasus demonstran “jadi-jadian” ini terbongkar.
Penelusuran AIMAN, para pengunjuk rasa ini tak hanya berasal dari Jakarta. Mereka datang dari sejumlah daerah di Jawa Barat seperti Subang, Cianjur, dan Karawang.
Sejumlah pelajar SMA dijaring Satuan Polsek Jatinegara saat berjalan kaki di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, hendak menuju Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019).
Saya menggali apa pekerjaan mereka termasuk siapa sosok yang mengorganisir mereka. Yang menarik, Sang Pengajak dan Pemberi Uang hilang sampai sekarang. Tak ada satu pun yang mengetahui keberadaan bahkan latar belakang mereka.
Tujuan pertama penelusuran saya adalah wilayah Tipar, Cakung. Di sana tinggal Rahmat Hidayat. Sosok Rahmat muncul dalam video yang beredar di media sosial.
Tampak sejumlah pelajar tumpangi kendaraan di Tol Dalam Kota Cawang arah Semanggi untuk menuju Gedung DPR, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019).
Dalam video itu ia mengaku diminta oleh seseorang bernama Taufik Ilham Riyadi. Perjalanan pertama saya adalah mengunjungi wilayah Tipar Cakung, di mana video seseorang yang mengaku bernama Rahmat Hidayat berasal. Dalam video ia mengaku diminta oleh seseorang yang bernama Taufik Ilham Riyadi.
Saya juga bertemu dengan sejumlah warga hingga Ketua RT dan juga Ketua RW di tempat tinggal Rahmat. Dari mereka saya mendapatkan sejumlah informasi.
Pelajar melakukan Aksi Tolak RUKHP di Belakang Gedung DPR/MPR, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (25/9/2019).
Saya juga mendapatkan kesaksian Profesor Hermawan Sulistyo, dosen Universitas Bhayangkara, yang sempat mewawancarai para pengunjuk rasa ini. Hermawan sering menjadi investigator di sejumlah kasus kerusuhan.
"Saya ketemu mereka di kawasan Pondok Indah (Jakarta Selatan). Saya tanyakan kepada mereka, dikasih uang berapa? Lalu mereka menjawab, ini Pak baru Rp 10.000, sisanya Rp 100 ribuan belum dibayar. Orang yang janjikan malah hilang!" cerita Hermawan.
Sejumlah pelajar terlibat kerusuhan di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Mereka membakar sejumlah sepeda motor di depan pos polisi Palmerah.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian sempat mengungkapkan bahwa ada pihak-pihak yang memanfaatkan para pelajar ini.
"Kelompok yang melakukan aksi-aksi ini semula murni dari adik-adik mahasiswa. Ada pihak-pihak yang memanfaatkan, mengambil momentum ini untuk agenda tersendiri, bukan agenda (menolak) RUU," ujar Tito dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Tampak sejumlah pelajar tumpangi kendaraan di Tol Dalam Kota Cawang arah Semanggi untuk menuju Gedung DPR, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019).
"Ada agenda politis yang tadi disebutkan Pak Menko Polhukam, yaitu untuk menjatuhkan pemerintah yang sah secara konstitusional," lanjut dia.
Pola yang sama dengan rusuh pasca-Pilpres
Apa yang terjadi kemarin mirip dengan apa yang terjadi pada 22 Mei pasca-Pilpres lalu. "Ada indikasi orang besar di balik dua kerusuhan yang sama!" ungkap Ketua Komnas HAM Taufan Damanik.
Para pelajar setingkat sekolah menengah atas bersitegang dengan pihak kepolisian saat hendak masuk ke Kompleks Parlemen, Jakarta, melalui pintu belakang, Rabu (25/9/2019).
Taufan menjawab pertanyaan saya tentang siapa yang bisa menggerakkan ini dan mengapa kerusuhan terulang. O iya, bicara soal kerusuhan 21-22 Mei 2019, ada hal yang belum terjawab hingga kini: ada korban tewas tapi tak terungkap siapa penembaknya.
Pola yang sama terulang dalam unjuk rasa di depan DPR kemarin: ada yang memasok massa, membuat rusuh, dan memunculkan korban. Catatan untuk penegak hukum: segala tindak pidana di balik kasus besar tak boleh dibiarkan tak terungkap! (Aiman Witjaksono)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "[Ekslusif] AIMAN Menelusuri Misteri Demonstran “Jadi-jadian"