Granat Asap Diketahui Tak Timbulkan Efek Ledakan, Benarkah Bom yang Dilarang dalam Hukum Perang PBB Ini Jadi Biang Keladi Kejadian di Monas? Begini Penjelasan Ahli

Rabu, 04 Desember 2019 | 10:01
Istimewa/Tribunnews

Lokasi ledakan di Monas yang disebabkan granat asap

Fotokita.net - PadaSelasa (3/12/2019) pagi kita sempat dikejutkan dengan sebuah peristiwa yang tak biasa: ledakan di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Sebagai daerah yang dekat dengan pusat kekuasaan, ledakan di Monas memicu kehebohan hingga memicu tanda tanya.

Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono mengklaim, ledakan ini disebabkan granat asap. Granat itu disebut berada dalam kantong kresek dan meledak ketika dipegang tentara.

Dua tentara atas nama Serka Fajar dan Praka Gunawan terluka imbas ledakan tersebut. Kedua korban tengah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta.

Baca Juga: Lukai 2 Anggota TNI yang Lagi Lari Pagi, Asal Muasal Granat Asap Penyebab Ledakan di Monas Masih Jadi Misteri. Lantas, Mengapa Ledakannya Terdengar Keras?

Dari foto dan video yang beredar di jagat maya, korban terkapar dan menderita luka parah. Tangan kirinya tampak cedera cukup serius, sedangkan wajah dan dadanya berlumur darah.

kompas tv
kompas tv

Ledakan di Monas terjadi karena granat asap.

Granat asap tidak sama dengan granat api/nanas. Granat asap diciptakan untuk mengepulkan asap, alih-alih meledak dan menghancurkan sekeliling. Riwayat granat asap dapat dilacak pada era Perang Dunia.

Saat itu, militer Amerika menggunakan granat asap sebagai kode komunikasi antara pilot dengan tentara di darat. Asap warna-warni menandakan kode tersendiri.

Di samping itu, tebalnya asap dapat digunakan sebagai media kamuflase untuk menyamarkan pergerakan pesawat ketika hendak mendarat, agar tak ditembak dari jauh.

Baca Juga: Polisi Sudah Temukan Penyebab Ledakan di Monas, Begini Kesaksian Warga Atas Kejadian yang Bikin Kaget Publik Itu

Dalam perjalanannya, strategi ini ditiru oleh Jerman dan Jepang, musuh Amerika dalam Perang Dunia II untuk mengelabui para pilot Amerika.

Hingga saat ini, granat asap di kalangan militer masih digunakan sebagai sarana penanda, bukan sebagai bahan peledak atau senjata.

“Sebetulnya fungsinya adalah sebagai alat penanda untuk zona sasaran atau pendaratan,” tutur peneliti bidang kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joddy Arya Laksmono M.T. seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa.

kolase Tribunnews & Kompas.com
kolase Tribunnews & Kompas.com

Fakta di Balik Ledakan di Monas, Berasal dari Granat Asap Hingga Lukai 2 Anggota TNI Namun Penjagaan Istana Tidak Diperketat

Joddy menjabarkan, ada dua jenis granat asap yang jamak digunakan. Pertama, granat asap warna-warni yang cenderung aman jika seseorang terpapar. Jenis kedua adalah granat asap penyembunyi.

Joddy mengatakan, bahan kimia utama yang ada dalam granat ini adalah hexachloroethane-zinc (HC), atau campuran dari asam terephthalic (TA).

“HC ini sebetulnya senyawa yang memiliki risiko. Kalau terserap kulit dalam konsentrasi yang tinggi, efek utamanya korban akan merasa depresi. Istilahnya memiliki reaksi eksotermis. Jadi jika terpapar, selama beberapa saat badan masih merasa panas meskipun sudah tidak ada lagi asapnya,” kata dia.

Baca Juga: Ledakan di Monas Bikin Kaget Publik, Polisi Sebutkan Penyebabnya: Karena Hal yang Tak Disangka Ini

Senyawa HC yang membahayakan kulit dapat diantisipasi dengan membasuh kulit dengan air.

Satu-satunya granat asap yang dapat meledak adalah granat asap berbahan fosfor putih. Granat ini identik dengan sebutan “bom fosfor”.

Joddy menyebut, fosfor ini mampu melukai seseorang, namun bukan dengan cara menghancurkan anggota tubuh seperti yang terjadi pada dua tentara korban ledakan Monas.

“Jika terkena tubuh, bisa menyebabkan luka bakar yang cukup parah. Bahkan bisa menyebabkan kematian,” ujar dia.

Kompas TV
Kompas TV

Ledakan di Monas Melukai 2 Anggota TNI. Dizsebabkan granat asap yang bisa menmbuat paru-paru bengkak.

Bom fosfor masuk dalam kategori senjata kimia yang berbahaya, bahkan dilarang penggunaannya dalam perang lantaran bisa mematikan warga sipil.

Pelarangan bom fosfor dalam perang jauh diteken pada Konvensi Persatuan Bangsa-bangsa tentang Senjata Konvensional Tertentu di Jenewa, Swiss, 1980.

Ledakan bom fosfor dapat dikenali dengan mudah, karena ia menyemburkan fosfor putih yang padat seperti kembang api ketika meletus.

Baca Juga: Ada Ledakan di Dalam Kawasan Monas, Polisi Langsung Lakukan Hal Ini: Bagaimana Kondisinya Sekarang?

Senjata ini pernah dipakai Israel di Gaza, Amerika di Vietnam, Arab Saudi di Yaman, dan serangan di Mosul, Irak.

Masalahnya, mungkinkah granat asap meledak di Monas? Sedangkan satu-satunya granat asap yang sanggup meledak adalah bom fosfor yang penggunaannya dilarang bahkan dalam hukum perang internasional?

Pakar militer dan intelijen Beni Sukadis juga sangsi bahwa ledakan Monas disebabkan oleh granat asap. Beni belum pernah mendengar riwayat granat asap (di luar bom fosfor) pernah meledak dan melukai orang.

"Granat asap kan hanya buat pengalihan saja untuk mengusir. Kemungkinan sih granat nanas, makanya bisa sampai melukai begitu. Kalau dilihat dari foto-fotonya kan memang cukup parah ya," jelas Beni seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa.

istimewa via Wartakotalive.com dan ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI via Kompas.com
istimewa via Wartakotalive.com dan ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI via Kompas.com

Polisi Akhirnya Ungkap Penyebab Ledakan di Monas, 2 TNI yang Jadi Korban dan Ditemukan Terkapar Berlumuran Darah hingga Bagian Tubuhnya Putus

"Tapi saya tidak tahu kalau polisi bilang granat asap," tambah dia. Keterangan Beni diperkuat oleh keterangan saksi di sekitar Monas pada saat ledakan.

Mariyati, petugas kebersihan, mengaku mendengar ledakan berdesibel tinggi dari Monas. Mariyati saat itu tengah menyapu jalanan di sekitar gedung Mahkamah Agung.

"Sekali ledakan kenceng banget," kata Mariyati, seperti dikutip dari Kompas TV, Selasa.

Beni mengaku heran, bahan peledak bisa ada di Monas, kawasan ring 1 yang semestinya dijaga ketat.

Baca Juga: Temukan di Tempat yang Tak Terduga, Uang Tak Bertuan Jadi Ujian Kejujuran. Apalagi, Ada Pesan Pilu Pada Alat Tukar Itu

Apalagi, tak sembarang orang dapat memiliki granat. Tak hanya sipil, beberapa pasukan TNI dan Polri tak punya akses terhadap peledak yang satu ini. Granat beredar secara eksklusif hanya di pasukan-pasukan tertentu.

"Saya enggak yakin kalau sipil yang meletakkan, kecuali tentaranya jualan ke sipil. Tidak masuk akal kalau orang sipil yang meletakkan," ujar Beni.

Kompas TV

Ledakan di Monas Lukai 2 Anggota TNI

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI) itu pun menepis kemungkinan bahwa granat dibawa oleh massa reuni akbar 212 saat acara berlangsung pada Senin (2/12/2019) lalu.

Sebab, semestinya keberadaan granat sudah bisa terdeteksi dalam penyisiran sepanjang acara tersebut.

Baca Juga: Ledakan di Monas Terjadi Cuma Beberapa Jengkal dari Kantornya, Begini Komentar Menhan Prabowo Atas Peristiwa yang Lukai 2 Anggota TNI Itu

"Jangan-jangan setelah 212 baru dimasukkan ke Monas. Setelah acara (212) juga kan (Monas) disisir. Harusnya saat penyisiran kan (granat) sudah didapat, kalau mereka dari awal sebelum acara sudah membawa," tutup Beni. (Vitorio Mantalean/Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tanda Tanya Sumber Ledakan di Monas, Ahli: Granat Asap Tidak Meledak"

Editor : Bayu Dwi Mardana Kusuma

Baca Lainnya